Jumat, 29 April 2016

ANALOGI JODOH DALAM SISTEM ENDOKRIN

Pada postingan sebelumnya saya memulai dari Juni tahun 2009. 
Agar postingannya beruntun, kali ini saya akan membahas yang terjadi beberapa bulan setelah Juni 2009, yaitu April 2016.

Tepatnya tanggal 20 April 2016 atau yang tidak bertepatan dengan hari apapun yang penting untuk saya, 
sebagai mahasiswa yang baik saya mengikuti mata kuliah Patobiologi kehamilan, persalinan dan Nifas. 

Dosen kami yang selalu memakai baju merah, tapi bukan gadis berkerudung merah, DR.dr. Isyharyah Sunarno, Sp.OG (K) hari itu membawakan materi Sistem Endokrin dalam kehamilan.

Judulnya biasa saja bahkan cenderung membosankan, tapi setelah dijelaskan TERNYATA tidak membosankan *sujudsyukur. 

Dr.Ai (nama panggilan si dosen Merah) merupakan salah satu dosen yang cara mengajarnya 'uuuuu' jadi materi apapun yang dibawakan beliau bisa masuk dengan santai menelusuri semak belukar otak saya yang semakin uzur.


Oke kembali ke sistem endokrin. 
Materi ini menarik karena ternyata si endokrin 11 koma 12 dengan sistem jodoh *uhuk.
Maklum, dengan usia rata rata di atas 25 tahun (FYI, saya masih 24 tahun), teman teman di kelas yang belum berkeluarga dan mengidap jomblo akan sangat sensitif dengan kata 'JOODOOH DOH DOH DOH DOH' *hentikan roma!


Saat kata ajaib ini disebut, teman yang sedang berdiri bakalan duduk, yang lagi tidur akan bangun, dan yang sedang makan kudu berhenti makan, karena makanannya dikeroyok sama teman yang duduk dan baru bangun. Kasihan, 


Dalam sistem endokrin, Dr.Ai menjelaskan bahwa Hormon hanya akan bekerja pada target tujuannya. 
Contoh hormon oksitosin, setelah hipofisis memproduksi oksitosin, doi bakalan melanglang buana menuju uterus tanpa mampir nongkrong di tempat manapun. 
Meskipun banyak organ lain yang dilewati dalam perjalanannya doi tetap fokus menuju uterus. 



Seperti jodoh, mau sejauh apapun jaraknya, sebanyak apapun mantannya, toh pada akhirnya seseorang hanya akan 'bekerja' pada jodohnya masing-masing. 

Itu pertama, kedua, hormon ternyata meskipun sudah di produksi dan sudah diperintahkan menuju target, jika reseptor pada target rusak maka hormon tidak akan bekerja secara maksimal. 



Hubungannya dengan jodoh apa? 
Yah, jika dianalogikan dengan jodoh, ternyata jodoh yang kita dapatkan akan baik jika kita, cewek sebagai reseptor juga baik. 
Ini sesuai dengan firman Allah swt surah An Nur ayat 26 *bukaqur'an baca !


Ketiga, karena malam semakin larut dan perut keroncongan jadi cukup 2 analogi yang nyentil pikiran saya tentang jodoh dan sistem endokrin, hehehehee

Pada akhirnya kita harus percaya pada setiap rencana Tuhan, karena kita hidup dalam rencana Tuhan.

CHOICHE OR ACCIDENT

Juni 2009 atau kurang lebih 2495 hari yang lalu. 

Tenang, saya tidak akan menulis sejarah politik Indonesia, tapi sejarah peradaban Yunani. Oke bukan, itu jauh lebih berat.

Dua ribu sembilan bukan tahun kelahiran saya apalagi tahun pernikahan. Juni 2009 adalah saat saya melepas masa paling indah 'katanya' (re:senior high school)


Seperti kebanyakan ababil yang pada zaman itu penemuan ini belum diciptakan, pilihan lanjut studi ke fakultas tertentu menjadi pertanyaan terberat kedua setelah pertanyaan telur atau ayam yang lebih dulu.

Itu juga yang terjadi pada saya. Cita cita sejuta umat yang sejak kecil  ingin jadi dokter agar kaya raya dan bebas nyuntik orang untuk mengobati orang sakit tidak dapat terwujud sejak negara api menyerang. 

Saya yang lahir, berkembang biak, SD, SMP, SMA di Baubau (salah satu kota madya di Sulawesi Tenggara, kepulauan Buton) AKHIRNYA tetap tidak berpindah tempat 😑 

Karena saya perempuan, ibu menyarankan jurusan yang masih berbau kesehatan yaitu membuka klinik tong fang kebidanan di Akbid Buton Raya sebagai angkatan pertama *tepuktangan.

Ibarat anak kecil yang udah ngantuk, dikelonin, tidur, bangun bangun saya sudah wisuda d3 kebidanan (dengan sebutan Amd.Keb) November 2012. 

Semua terjadi begitu saja, dipaksa, terpaksa hingga akhirnya terbiasa.

Namun menjadi bidan mengajarkan saya untuk lebih menghargai orang tua terutama ibu. Proses panjang kehamilan, proses kompleks melahirkan, dan proses santai namun tetap mengancam nifas membuat saya ingin selalu mencium kaki ibu untuk meminta maaf. *jadianakmanis 👼🏻

Rasa 'uuuu' pada saat membantu persalinan seorang bayi membayar berkali-kali lipat raga yang terjaga semalam suntuk. *ngelapkeringat 😁

Oke selesai. September 2013, setelah 264 bulan stay di kota Baubau. Finally, saya diizinkan merantau ke kota daeng *kelilinglapangansambilpegangobor untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi, D4 Bidan pendidik. 

Saat injury time, dikala maba gelombang terkhir ujian pada hari senin, saya baru on the way hari sabtu.  Menempuh jarak lebih dari 12 jam dengan kapal PELNI, the power of  kepepet kembali menujukkan tajinya, eh taringnya, atau jambulnya oke whatever apa namanya. 

Saya akhirnya bergabung dengan civitas STIKes Mega Rezky Makassar dan wisuda 1 tahun kemudian, tepatnya 21 Oktober 2014 dengan gelar S.ST (Sarjana Sains Terapan)

Sampai saat menulis draft dan memposting tulisan ini, saya masih betah di kota daeng (Makassar). 

Meskipun minggu minggu pertama berada di kota ini selalu mengundang air mata karena rindu kampung halaman. Saya akhirnya survive hingga hampir 3 tahun 😁


Saat ini, saya tengah melanjutkan studi pada jenjang S2 di Universitas Hasanuddin (akhirnya negeri juga 🙆🏻) dengan tetap konsisten mengambil S2 kebidanan.

So, entah pilihan atau kecelakaan. Kenyataannya saya sudah menggeluti bidang ini hingga nyaris ke tahap magister.

Cukup cintai apa yang kamu miliki, syukuri selanjutnya lihat kerja Tuhan.