Rabu, 18 Mei 2016

KAMU DAN SECANGKIR COKLAT (TIDAK) PANAS

Ku aduk perlahan secangkir coklat yang panasnya semakin tidak terasa. 
Berulang kali aku menatap ke luar, berharap ada sosokmu yang segera muncul. 
Ku pandangi sekali lagi jam yang melingkar di pergelanganku. 17.27 wita 
Nyaris 2 jam aku menunggu. 


Tiba-tiba kamu menyapa, membuyarkan lamunanku tentang kisah kita dulu, iya di sini, di tempat kita selalu... 
Ah sudahlah aku tidak ingin mengingat kenangan 4 tahun bersamamu.

"Maaf, saya terlambat, ada JPO yang ambruk di Soedirman." Katamu mengawali pertemuan sore itu.

"Tak masalah, saya juga belum lama tiba di sini" jawabku sambil tersenyum 

Rasanya berbeda, melihatmu tepat di hadapanku setelah 2 tahun tidak bertemu. 
Kamu mengeluarkan beberapa barang dari saku mu, aku melihat kotak marlboro putih yang tampak lecek menjadi salah satunya. Ternyata kamu masih setia dengannya. 

"Bagaimana, sudah mengambil keputusan?" Katamu lagi sambil menikmati seduhan kopi hitam sang empunya kafe.

Pertanyaan itu entah sudah berapa kali terulang sejak semalam. 
Tapi aku bahkan tidak tau bagaimana hatiku mendeskripsikan tentangmu.
Aku tidak membencimu, tidak sedikitpun. Tapi saat memutuskan pergi, tak sekalipun namamu kusebut.

"Saya perlu sedikit waktu" Jawabku

Keningmu mengkerut, aku tau kamu tidak menyukai ini.
Ku genggam tanganmu. Mimik wajahmu berubah tenang.
Saat itu juga aku mengutuk diriku sendiri. Semua tembok kokoh yang ku bangun dalam 2 tahun, hancur seketika. Mungkin kamu benar, 2 tahun tak mengubah apapun tentang arti kita.
Mungkin,

Kamu kembali menceritakan banyak hal.
Tentangmu, tentangnya, tentang kita.
Kamu tersenyum, kamu tertawa. Aku tersenyum, aku tertawa.

Ku biarkan kamu terus berbicara.
Aku mungkin menikmati setiap kata yang terucap dari bibirmu.
Kupandangi wajahmu lamat. Masih....
Masih seperti dulu. Aku tertunduk.

Aku memutuskan mengakhiri pertemuan kita dengan janji akan bertemu kembali.

"Janji bertemu secepatnya?" 

Aku tertawa, mengangguk.

Aku melangkah meninggalkanmu. Tiap langkah terasa seperti puzzle yang menyatukan setiap kenangan kita.


Kamu tiba-tiba datang dengan tergesa. 

"Maaf sayang, saya bertemu teman lama dan terpaksa menemaninya terlebih dahulu". Kamu menjelaskan dengan cepat.

Aku diam, marah. Iya marah. 
Sedari tadi nyaris tiap menit aku menghubungimu namun tak ada jawaban. 
Aku mengutuk 2 jam waktuku yang terbuang karena alasan bodohmu. Dan Itu menjadi saat terakhir kita bertemu di kafe ini, 2 tahun lalu.


Aku terus melangkah, menjauh. Di pelataran kafe sosok yang sangat ku kenal tersenyum hangat menyambutku. Dia .

"Lama menunggu?" aku tersenyum menyapanya.
"Sangat lama, ayo pergi!" Dia tertawa

Sebelum pergi aku menoleh ke tempatmu, entah apa yang membuatku melakukannya . 
Aku melihatmu tersenyum, akupun tersenyum. 

Tiba tiba pipiku terasa hangat. 
Aku segera berbalik namun kurasakan itu semakin hangat. 
Aku menangis, yah menangis.
Tangis yang seharusnya kuberikan untukmu 2 tahun lalu.


Agak aneh tulis yang seperti ini 😅 
Yah ini tulisan fiktif, efek melting di malam minggu yang draftnya sudah dibuat dari bulan lalu, bahkan jauh sebelum draft tulisan sebelumnya dibuat 😁

3 komentar:

  1. Ih bikin baper galau����

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaa yang dari outbound gak boleh galau dek 😘
      Gak usah diingat ingat yg udah lewat 🙆🏻

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus