Menikmati seduhan coklat yang masih
mengepul. Duduk terpaku sendiri di kursi kayu sudut ruang. Sedari tadi tak sedikit pun rasa
kantuk berkunjung sementara sebahagian penghuni nusantara telah terbuai dengan
mimpi masing-masing.
Gemercik suara dedaunan di balik
jendela sesekali menimpali gerakkan detik jam dinding yang alunannya terdengar
semakin nyata.
Waktu telah menunjukkan 01.35 wita,
sudah cukup larut, sudah menjadi hari baru, menjadi tanggal yang baru.
Ku raih handphone yang sedari tadi ku abaikan, membuka beragam aplikasi.
Hm, tak ada yang menarik.
Tak ada yang bisa menyesarkan
aliran pikiranku darimu, dari pertanyaanmu, dari “kita”. Ia masih menggebu, liar dan
mencegah setiap kantuk yang hendak berkunjung.
Ku ambil secarik kertas dan pena. Ku
tambatkan beberapa coretan di tubuhnya yang kosong.
Ku tulis semua hal tentang mu, hal
yang menurutku baik dan semua hal yang kemarin mentransformasikan kita menjadi aku dan kamu.
Belum separoh tubuhnya terisi aku berhenti, ini sia-sia.
Bahkan jika hal tidak baik tentang mu
terisi penuh, aku tau itu tidak akan membuatku dengan yakin untuk mengatakan
tidak. Ada satu yang merungkupi semua ketidak baikkan pun kesalahanmu.
Ku raih kembali handphone yang
tergeletak di atas kasur.
Pukul 02.44 wita.
Aku memilih kontak dan menyetuh tombol
dial. Yah aku butuh teman bicara dan aku tau siapa.
Beberapa kali bunyi tuuutt terdengar
jelas hingga ada jawaban di ujung sana.
“Hallo” Sapamu dengan suara berat.
“Sudah tidur?” tanyaku
“Baru saja beberapa menit yang lalu,
ada apa?” tanyamu
“Umm, tidak. Aku hanya mencari teman
bicara”
“Kalau begitu bicaralah, aku siap
mendengarkan. Bytheway jam segini
belum tidur?
Tak butuh waktu lama untuk menjadikan
ini obrolan yang cukup menenangkan.
Pukul 04.10 wita akhirnya rasa kantuk
berhasil mengunjungiku, kita mengakhiri obrolan berdurasi sejam lebih itu.
Aku merangkak menuju kasur, memeluk
guling, memikirkan mu dan tersenyum.
I
find the answer !
07.30 wita suara alarm menekan sel
sensori organ Korti indera pendengaranku, impulsnya segera menuju ke pusat
pendengaran dan diterjemahkan sebagai perintah untuk bangun dilengkapi tiga
tanda seru.
Kelopak mata ku masih terasa sangat
berat, seolah bersitegang untuk menyembunyikan pupil, lensa, kornea, retina dan
kerabatnya.
Kubayangkan wajah Prof. Mustafa, dosen
“baik hati” yang akan mengisi kelas 1 jam dari sekarang. Aah, impuls mengingat
beliau jauh lebih cepat dan menekan dibanding alarm.
Kuseret tubuhku menuju kamar mandi dan
segera bersiap menuju kampus. 08.10 wita aku telah seutuhnya siap, meski rasa
kantuk masih bergelayut di pelupuk mata.
Aku mengikuti kelas dengan tertatih
hingga pukul 14.00 wita, setelah itu bergegas ke tempat kita biasa bertemu.
Kamu sudah tiba lebih dulu ternyata.
Aku segera memesan Caramel Frappucino. Salah satu favorit
di kafe ini. Rasa kopinya yang kuat dipadu karamel, susu, es dan
disempurnakan dengan topping whipped cream cocok dinikmati saat matahari sedang
bersemangat berbagi kehangatan.
”Tumben tidak memesan coklat” kamu
berceletuk.
“Saya butuh sedikit caffein, ada
beberapa laporan yang harus diselesaikan malam ini”
Kita pun larut dalam obrolan, berbagi cerita
sambil menikmati minuman masing-masing termasuk jawaban atas pertanyaanmu yang
berhasil mengusik pikiranku.
Senja mulai menyeruak, cahaya keemasan
matahari secara malu-malu mulai menyapa.
“Kita akan tetap berteman bukan?”
tanyaku diakhir pertemuan itu.
“Um, bukannya kamu memang selalu
memutuskan apapun yang kamu mau” jawabmu sambil tertawa.
Akupun meninggalkan mu di kafe itu.
Rasanya seperti melepaskan beban yang telah lama membatu.
Yah, aku memutuskan untuk tetap
mengaggapmu teman.
Pernah menjadi bagian masa lalu namun kurasa
tak cukup bijak mengajakmu kembali ke waktu kini.
Mungkin ada rasa yang tertinggal
untukmu, mungkin ada ruang yang masih menjadi diammu.
Tapi ada hal yang masih sama ada
padamu sejak dulu sampai sefajar tadi kita bercengkrama.
Kamu dan secangkir coklat.
Secangkir
coklat yang dapat kunikmati dengan siapapun selain kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar