Selasa, 14 Juni 2016

KAMU DAN SECANGKIR COKLAT (TIDAK) PANAS PART II

Menikmati seduhan coklat yang masih mengepul. Duduk terpaku sendiri di kursi kayu sudut ruang. Sedari tadi tak sedikit pun rasa kantuk berkunjung sementara sebahagian penghuni nusantara telah terbuai dengan mimpi masing-masing.
Gemercik suara dedaunan di balik jendela sesekali menimpali gerakkan detik jam dinding yang alunannya terdengar semakin nyata.

Waktu telah menunjukkan 01.35 wita, sudah cukup larut, sudah menjadi hari baru, menjadi tanggal yang baru.

Ku raih handphone yang sedari tadi ku abaikan, membuka beragam aplikasi. 
Hm, tak ada yang menarik.
Tak ada yang bisa menyesarkan aliran pikiranku darimu, dari pertanyaanmu, dari “kita”. Ia masih menggebu, liar dan mencegah setiap kantuk yang hendak berkunjung.

Ku ambil secarik kertas dan pena. Ku tambatkan beberapa coretan di tubuhnya yang kosong.
Ku tulis semua hal tentang mu, hal yang menurutku baik dan semua hal yang kemarin mentransformasikan kita menjadi aku dan kamu.
Belum separoh tubuhnya terisi aku berhenti, ini sia-sia.
Bahkan jika hal tidak baik tentang mu terisi penuh, aku tau itu tidak akan membuatku dengan yakin untuk mengatakan tidak. Ada satu yang merungkupi semua ketidak baikkan pun kesalahanmu.

Ku raih kembali handphone yang tergeletak di atas kasur.
Pukul 02.44 wita.
Aku memilih kontak dan menyetuh tombol dial. Yah aku butuh teman bicara dan aku tau siapa.
Beberapa kali bunyi tuuutt terdengar jelas hingga ada jawaban di ujung sana.

“Hallo” Sapamu dengan suara berat.
“Sudah tidur?” tanyaku
“Baru saja beberapa menit yang lalu, ada apa?” tanyamu
“Umm, tidak. Aku hanya mencari teman bicara”
“Kalau begitu bicaralah, aku siap mendengarkan. Bytheway jam segini belum tidur?

Tak butuh waktu lama untuk menjadikan ini obrolan yang cukup menenangkan.
Pukul 04.10 wita akhirnya rasa kantuk berhasil mengunjungiku, kita mengakhiri obrolan berdurasi sejam lebih itu.
Aku merangkak menuju kasur, memeluk guling, memikirkan mu dan tersenyum.
I find the answer !

07.30 wita suara alarm menekan sel sensori organ Korti indera pendengaranku, impulsnya segera menuju ke pusat pendengaran dan diterjemahkan sebagai perintah untuk bangun dilengkapi tiga tanda seru.
Kelopak mata ku masih terasa sangat berat, seolah bersitegang untuk menyembunyikan pupil, lensa, kornea, retina dan kerabatnya.

Kubayangkan wajah Prof. Mustafa, dosen “baik hati” yang akan mengisi kelas 1 jam dari sekarang. Aah, impuls mengingat beliau jauh lebih cepat dan menekan dibanding alarm.

Kuseret tubuhku menuju kamar mandi dan segera bersiap menuju kampus. 08.10 wita aku telah seutuhnya siap, meski rasa kantuk masih bergelayut di pelupuk mata.

Aku mengikuti kelas dengan tertatih hingga pukul 14.00 wita, setelah itu bergegas ke tempat kita biasa bertemu.

Kamu sudah tiba lebih dulu ternyata.
Aku segera memesan Caramel Frappucino. Salah satu favorit di kafe ini. Rasa kopinya yang kuat dipadu karamel, susu, es dan disempurnakan dengan topping whipped cream cocok dinikmati saat matahari sedang bersemangat berbagi kehangatan.

”Tumben tidak memesan coklat” kamu berceletuk.
“Saya butuh sedikit caffein, ada beberapa laporan yang harus diselesaikan malam ini”

Kita pun larut dalam obrolan, berbagi cerita sambil menikmati minuman masing-masing termasuk jawaban atas pertanyaanmu yang berhasil mengusik pikiranku.

Senja mulai menyeruak, cahaya keemasan matahari secara malu-malu mulai menyapa.

“Kita akan tetap berteman bukan?” tanyaku diakhir pertemuan itu.
“Um, bukannya kamu memang selalu memutuskan apapun yang kamu mau” jawabmu sambil tertawa.

Akupun meninggalkan mu di kafe itu. Rasanya seperti melepaskan beban yang telah lama membatu.
Yah, aku memutuskan untuk tetap mengaggapmu teman.
Pernah menjadi bagian masa lalu namun kurasa tak cukup bijak mengajakmu kembali ke waktu kini.
Mungkin ada rasa yang tertinggal untukmu, mungkin ada ruang yang masih menjadi diammu.
Tapi ada hal yang masih sama ada padamu sejak dulu sampai sefajar tadi kita bercengkrama.

Kamu dan secangkir coklat.

Secangkir coklat yang dapat kunikmati dengan siapapun selain kamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar